Translate

Senin, 23 Juli 2012

keajaiban cinta



Elemen utama dari cinta adalah hati nurani dan akal. Akal pada dasarnya bertugas untuk mengenal apa yang sebaiknya harus kita cintai. Sedangkan hati nurani bertugas memelihara cinta tersebut dengan ketulusan yang tumbuh dari kesadaran akal ketika merespons secara sadar sebuah pilihan. Di dalam kehidupan ini, wujud cinta yang utama dan terindah adalah kecintaan makhluk dan Sang Kholiq dan kemudian kepada Rasul-Nya.
Cinta yang sedang tertuju pada sesuatu akan tertanam didalam hati dan membentuk dua tahapan. Pertama, rasa cinta akan membentuk pola dasar dan kaidah bagi perasaan, kehendak dan obsesi dalam hidup. Pada tahapan ini cinta terkadang diwujudkan dalam suatu peristiwa, ucapan, tindakan, hubungan social, kebenaran dan laku. Kedua, kecintaan seseorang terhadap objek tertentu akan menjadi pusat segala sesuatu yang berhak dalam nurani orang tersebut sehingga sama sekali tidak ada peluang bagi objek lain untuk masuk kedalam hatinya. Artinya, manusia seperti ini akan selalu memandangobjek cintanya sebagai obsesi kemana saja ia menghadap dan mengarah. Mungkin karena itulah tiba-tiba Ukasyah bertindak “aneh” ingin mengqishas” Rasulullah disaat menjelang wafatnya, sementara sahabat yang lainnya sedang dirundung kesedihan yang tiada tara.
Kisahnya, siang itu setelah mengimami sholat, nabi berdiri dengan payah, lalu berkhotbah: ”wahai sekalian manusia, aku adalah nabi kalian, yang menasehati kalian untuk berbuat baik ddan menjahui segala kemungkaran, aku adalah sahabat kalian. Siapa yang pernah aku sakiti, sengaja atau tidak maka sebelum aku meninggal kalian hendaklah mengambil “qishash’ dariku. Mendengar permintaan itu, suasana masjid seketika menjadi hening. Tak seorangpun sahabat yang berani mengangkat kepalanya. Mereka semua diliputi suasana haru dan kesedihan. Sekarang bukan waktunya tersenyum apalagi bercanca”.setelah tiga kali nabi meminta dan mengulangi perkataan itu, berdiriilah Ukasyah bin mihsan. Ia berkata “wahai Rasulallah, ketika peristiwa perang badar, onta yang engkau tunggangi berjalan beriringan dengan ontaku, ketika itu engkau melecutkan cambukmu dan mengenahi perutku. Aku tidak tahu engka sengaja atau tidak!” Rasulullah menjawab: “tidak ada maksudku kepadamu kecuali aku memang sengaja melakukannya.” Nabi lantas menyuruh bila mengambilkan cambuknya dirumah putrinya, Fatimah.
Raut muka Ukasyah yang tampak serius membuat para sahabat marah melihat kelancangannya. Segera berdiri Abu Bakar dan Umar, disusun ali dan terakir hasan dan husen. Semua berkata: “hai Ukasyah kami tidak akan membiarkanmu menyakiti tubuh Rsulullah sedikit pun. Jika kau berkehendak, silakan lakukan qishash itu kepada kami!” Rasulullah kemudian memberikan isyarat agar mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. “duduklah kalian, Allah telah mengetahui kedudukan kalianyang mulia disisi-Nya.”
Tidak lama kemudian, datanglah Bilal dengan membawa cambuk. Cambuk itu langsung diberikan kepada Ukasyah; “terimalah cambuk ini dan laksanakan keinginanmu!” Ukasyahpun berucap: “wahai rasulullah, ketika engkau mencambukku aku sedang tidak mengenakan baju. Aku ingin engkau agar tidak mengenakan baju.” Nabi menjawab: “baiklah,” sambil melepaskan jubah yang meliputi tubuh lemahnya.
Tingkah polah Ukasyah tadi membuat suasana menjadi semakin tegang. Sebagian sahabat bahkan takbisa mengendalikan emosinya. Kalau saja rasulullah tidak mencegah mereka, mungkin Ukasyah sudah dipukuli oleh mereka. Begibu Rasulullah melepas pakaiannya, Ukasyah melemparkan cambuk dari tangannya dan melompat memeluk nabi erat-erat, lalu menciumnya sambil menangis. Sahabat yang lainpun semakin herandengan kelakuan sahabat yang satu ini. “Apa yang engkau inginkan wahai Ukasyah?” Tanya rasulullah. Jawab ukasyah; “wahai rasulullah, jiwaku adalah tebusanmu jika ada yang berani menyakitimu. Aku tahu bahwa ini adalah pertemuan kita yang terakir karena sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Kalau nanti aku masuk surge tentu sulit bagiku bertemu denganmu karena derajat kita yang berbeda. Tapi jika neraka adalah tempatku, inilah kesempatan terakir bagiku menatap wajahmu. Oleh karena itu sebelum kita berpish, aku ingin kulitku yang hina ini bersentuhan dengan kulitmu yang mulia.” Rasulullah SAW menangis mendengar ucapan Ukasyah lalu bersabda: “wahai sahabat-sahabatku jika kalian herdak melihat penduduk surga, lihatlah Ukasyah, karena ketulusan cintanya kepadaku.” Para sahabat berdiri dan memeluk Ukasyah. Mereka bergantian menciumnya sebagai penghormatan atas dirinya yang telah dijamin masuk surga karena cintanya yang tulus kepada rasulullah SAW.(ajaklah hatimu bicara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar